- belajar, berbagi ilmu dan pengalaman di bidang cctv -
Cahaya merupakan energi dalam bentuk radiasi gelombang elektromagnetik. Seperti kita ketahui gelombang elektromagnetik ini mempunyai panjang gelombang. Perbedaan gelombang inilah yang menentukan warna dan tipe cahaya. Panjang gelombang yang dapat dilihat manusia kira-kira 400 nm s/d 700 nm. Kamera CCTV dapat “melihat” diluar panjang gelombang manusia, seperti Infra-Red (715 – 900 nm).
Sifat cahaya tergantung dari material/permukaan objek yang jatuh padanya apakah itu dipantulkan, disebarkan, atau diserap.
Panjang gelombang cahaya yang berbeda-beda yang jatuh pada manusia itulah yang diterjemahkan otak sebagai warna dari 400 nm (warna ungu) s/d 700 nm (warna merah). Cahaya putih merupakan gabungan dari semua panjang gelombang cahaya yang terlihat dalam waktu bersamaan.
Objek berwarna memantulkan cahaya secara selektif, dimana hanya akan memantulkan cahaya yang dapat dilihat oleh mata, sisanya diserap oleh objek tersebut. Contohnya bunga berwarna merah yang mengandung molekul pigmen yang menyerap semua cahaya putih dan hanya memantulkan cahaya gelombang warna merah. Oleh karenanya cahaya putih digunakan juga sebagai “colour corrected” supaya warna objek yang dilihat mendekati warna sebenarnya.
Panjang gelombang cahaya pada spektrum yang lebih rendah dari spektrum normal mata manusia adalah ultraviolet (UV). UV ini dapat membakar kulit, karenanya sangat tidak aman untuk CCTV. Spektrum cahaya IR (Infra Red) berada di atas spektrum normal mata manusia.
Cahaya IR tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tetapi kamera cctv monochrome dapat melihatnya. Panjang gelombang cahaya IR ada diantara 715 dan 1100 nm. Itulah sebabnya kenapa kamera dengan mode IR hanya dapat menampilkan gambar hitam putih, karena cahaya berwarna berada pada spektrum lebih rendah 400 – 700 nm.
Sekian artikel kali ini, semoga bermanfaat…
LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. Adapun penggunaan LPR diantaranya adalah sebagai berikut:
Perangkat pada LPR.
Berikut minimal sistem pada LPR:
Adapun perangkat tambahan pada LPR jika digunakan pada parking system:
Dan masih ada perangkat lainnya yang bisa diterapkan sesuai dengan kebutuhan.
Berikut wiring diagram tipikal sistem LPR pada sistem perparkiran: ![]()
Penjelasan.
Ada dua tipe sistem LPR, software atau hardware based. Software based contohnya adalah Milestone XProtect dan biasanya kamera yang digunakan adalah kamera IP (IP Camera). Sedangkan contoh hardware based adalah dari Geovision GV-LPR. Solusinya lebih lengkap, bahkan ada yang standalone yaitu GV-DSP LPR V3. Solusi dari Geovision menggunakan kamera analog.
Terus terang saya belum pernah memasang sistem LPR sehingga saya masih ngeblank output pada LPR software based seperti apa? Sedangkan pada hardware based sangat jelas integrasi dari setiap modul input dan outputnya. Input dan output ini diperlukan untuk integrasi dengan sistem lain (mis. sistem perparkiran) dimana output dari LPR ini bisa mengendalikan buka tutup palang pintu barrier gate.
Tidak seperti aplikasi standar cctv, kamera yang digunakan pada LPR harus memenuhi beberapa syarat:
Cara Kerja LPR.
Detail cara kerja LPR terdiri atas 6 langkah yaitu:
Sekian paparan singkat tentang LPR di atas yang saya rangkum dari berbagai sumber semoga bermanfaat…
Settingan DVR ke internet menggunakan koneksi internet 3G sebenarnya sama saja dengan settingan menggunakan koneksi internet speedy. Perbedaanya hanya pada konfigurasi koneksi provider 3G. Topologi yang pernah saya gunakan saat pengetesan adalah sbb (saya menggunakan sim card 3 dan flash telkomsel):
Hasil pengetesan:
Sedangkan berdasarkan Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi, karakteristik jaringan GPRS dan 3G adalah sebagai berikut (saya copas dari makalahnya):
Solusi:
Supaya mendapatkan sinyal 3G yang stabil maka ada beberapa upaya yang bisa dilakukan:
Kesimpulan:
Koneksi internet menggunakan 3G sangat tergantung banyak faktor, terutama faktor pengguna pada satu BTS. Hal inilah yang tidak dapat dikontrol, karena seolah-olah kita sedang menggunakan jalur data secara bersama-sama. Berbeda dengan koneksi internet via kabel, jalur data benar-benar kita gunakan secara ekslusif. Berdasarkan paparan di atas tetap koneksi internet kabel lebih unggul dibanding dengan non kabel.
Mungkin ada pengalaman pembaca yang berbeda dengan paparan diatas. Silahkan dishare di kolom komentar.
Semoga bermanfaat…
Seperti yang saya tulis sebelumnya di artikel menyoal backup full 1 hard disk pada DVR, bahwa backup diperuntukan untuk “menyimpan sebagian durasi record pada waktu krusial”.
Berdasarkan konsep ini pulalah media penyimpanan DVR di optimasi pada medium usb stick atau flashdisk. Sehingga jarang ktia temukan isu kompatibilitas pada flashdisk, DVR akan selalu bisa mendeteksi/membaca flashdisk. Tetapi tidak sedikit pula yang menggunakan hard disk sebagai media penyimpanan hasil backup.
Tidak seperti flashdisk yang langsung plug n play, pada hard disk eksternal ada beberapa hal yang harus kita optimalkan supaya dikenal oleh DVR sebelum kita menjatuhkan vonis hard disk eksternal tersebut tidak kompatibel dengan DVR. Proses simpelnya adalah sebagai berikut:
Nah jika hard disk eksternal anda tidak memenuhi ke-2 point tersebut maka bisa dipastikan tidak kompatibel dengan DVR alias tidak bisa digunakan.
Uraian dan Cara Mem-format Hard disk Eksternal.
DVR hanya mengenal media penyimpanan dengan file system FAT32. Hard disk dengan kapasitas besar biasanya diformat dengan file system NTFS. Tidak mudah untuk memformat hard disk menggunakan FAT32, karena PC dengan O/S Windows sudah menghilangkan option format dengan FAT32.
Biasanya hard disk dengan kapasitas besar (misal 1 TB) harus diinisialisasi terlebih dahulu sebelum diformat. Inisialisasi ini diperlukan untuk alokasi tabel partisi. Ada dua tipe alokasi table partisi untuk hard disk, yaitu:
DVR yang pernah saya oprek kebanyakan hanya mengenal layout table partisi MBR. Keterbatasan dari table partisi MBR adalah maksimum kapasitas hard disknya hanya sampai 2 TB. Jika hard disk yang digunakan untuk mem-backup ternyata tidak terdeteksi/dikenal sama sekali oleh DVR kemungkinan besar terletak pada tipe partisi yang digunakan. Supaya bisa digunakan maka hard disk tersebut harus di convert ke MBR.
Tools yang digunakan untuk proses convert ini adalah:
Berikut step untuk mengconvert hard disk NTFS ke file system FAT32:
Ikuti semua stepnya sampai berhasil.
Setelah berhasil dengan proses convert dan format, buka software FAT32 Formater. Secara otomatis akan mendeteksi hard disk yang baru saja di format. Lihat gambar dibawah, dan samakan settingan dengan gambar tersebut, setelah itu klik Start, tunggu sampai selesai dan berhasil.
Hard disk external siap digunakan.
Note:
Sekian artikel kali ini, semoga bermanfaat… Jika ada pertanyaan, saran, atau koreksi (sangat diharapkan) isi saja di kolom komentar atau tulis email.
Seringkali kita menemukan topologi jaringan di customer dengan 2 router. Router yang digunakan tentunya modem ADSL yang merangkap router dan router wifi sebagai AP (Access Point). Biasanya penambahan router wifi digunakan untuk membuat hotspot di rumah.
Kesulitan yang sering dihadapi adalah manakala kita harus menghubungkan DVR ke router wifi bukan langsung ke modem ADSL. Port DVR jadi susah untuk di buka.
Solusi paling simple tentunya adalah dengan menambahkan hub/switch ke modem ADSL, setelah itu baru dibagi ke router wifi dan DVR.
Tapi akan menjadi lebih simple di sisi hardware jika kita bisa mengoptimalkan konfigurasi di masing-masing device.
Pada artikel kali ini saya akan mencoba menjelaskan settingan yang dapat diterapkan dan tentunya sudah terbukti berhasil.
Settingannya adalah sbb (Diasumsikan network+internet sudah berfungsi, baik itu via kabel mauapun hotspot):
Settingan ke-1
Atur dan ubah koneksi dan settingan router dan DVR sbb:
Kabel
Ubah colokan RJ45 dari modem ADSL –> router wifi dari port WAN ke port LAN.
![]()
Modem ADSL
Mode koneksi : PPPoE (always ON).
Router WIFI
Setelah disetting seperti di atas baru dilanjut dengan open port.
Penjelasan
Dengan settingan ke-1 ini maka router wifi murni hanya dijadikan sebagai hub/switch plus-plus. Maksudnya selain sebagai hub/switch jaringan kabel juga sebagai hub/switch via wifi. Laptop yang terhubung ke router wifi akan mendapatkan IP Address secara otomatis dari modem ADSL.
Settingan ke-2
Atur dan ubah koneksi dan settingan router dan DVR sbb:
Kabel
Pastikan colokan dari modem ADSL –> router wifi ke port WAN.
Modem ADSL
Mode koneksi : Bridge (Dial Up).
DHCP : OFF.
Router wifi
Cari menu WAN pada router wifi, dan pilih PPPoE, setelah itu isi user account speedy(lihat gambar di bawah). Untuk DNS saya gunakan DNS google supaya lebih simple dan gampang diingat, kalau menghendaki DNS Telkom silahkan di google saja.
Penjelasan
Dengan settingan ke-2 ini modem ADSL murni kita jadikan sebagai modem dial-up. Settingan virtual port/port forwarding, ddns, tidak akan berpengaruh terhadap DVR. Dan semua pengaturan dilakukan di router wifi baik itu port forwarding/virtual server, ddns, dan yang lainnya.
Sekian artikel kali semoga bermanfaat.
Silahkan isi kolom komentar jika ada masukan, saran, atau pertanyaan.